Pelajaran Berharga Apa Saja Yang Bisa Kita Petik Dari Kejadian Luar Biasa Covid 19? Simak Yuk Ulasanya Berikut Ini

Ini adalah tulisan saya yang paling emosional, karena apa yang akan saya sampaikan pada artikel kali ini merupakan sebuah pembelajaran dari fenomena luar biasa yang dirasakan seluruh jagat raya. Korbanya adalah salah satu penghuninya, yaitu manusia. Kejadian Covid 19 akan menjadi catatan sejarah yang akan dikenang dari generasi ke generasi, bahkan menjadi simbol dari kepahitan dan kegetiran peradaban. Berbulan bulan kita disuguhi berita buruk yang mengembangkan rasa cemas, menggairahkan rasa takut hingga membuat kita tidak pernah tenang saban hari. Terlalu banyak informasi yang disuguhkan di sosial media, hingga membuat kita kebingungan mana yang benar dan mana yang salah. Akibatnya apa yang terjadi adalah saling menyalahkan.

 

Saya secara konsisten hampir setiap hari merenungkan tentang pelajaran apa yang bisa manusia petik dari covid 19. Ini bukan kejadian yang bisa dilupakan dalam sekejap, wabah ini bukan sekedar teguran. Tuhan mengijinkan ini terjadi karena sebuah alasan. Covid 19 lebih dahsyat dari bencana alam, lebih mengerikan dari perang di tengah malam, lebih mencekam dari pembunuhan massal yang membuat nyawa tenggelam. 

Covid 19 bukan kejadian yang bisa dikontrol, bukan situasi sulit yang bisa diatasi pelan-pelan, bukan peperangan yang bisa berakhir dengan kesepakatan. Kita bahkan tidak tahu kapan wabah ini bisa lenyap dari bumi. Manusia hanya bisa berpasrah dan diselimuti rasa resah. Kali ini saya tidak akan membahas hal-hal yang sudah sering diperdebatkan orang-orang tentang Corona. Saling menyalahkan tak ada ujungnya. Yuk mari kita petik pelajaran berharga dari  covid 19, agar secara individu kita bisa menjadi manusia yang lebih baik, lebih berguna dan lebih dekat dengan sesama, Semesta dan Pencipta.

1. Pelajaran Pertama tentang Hubungan

Kita sering lupa ada hubungan-hubungan yang lebih krusial dari sekedar hubungan yang sering kita perbincangkan selama ini. Hubungan dengan sesama manusia, hubungan dengan semesta dan hubungan dengan pencipta adalah hubungan penting yang kerap kita abaikan.

A. HUBUNGAN DENGAN SESAMA MANUSIA

Sebelum Corona menyerang kita kerap mengabaikan pertemuan dengan sesama. Pertemuan kecil dengan teman lama sering tertunda, mengunjungi kerabat sering diabaikan, pulang ke rumah orang tua sering dilupakan. Kita kerap tidak peka dengan hubungan dengan sesama. Setelah Corona datang apa yang terjadi. Pertemuan dengan teman mustahil dilakukan. Bertemu kerabat dekat saja menjadi omongan. Bertemu orang tua di kampung sana akan menjadi aib keluarga, bahkan ditolak warga. Coba lihat dan amati hubungan manusia di tengah Corona. Dingin, saling menjauh dan saling curiga. Pelukan, jabat tangan dan berdekatan bukan lagi sesuatu yang menyenangkan, tapi justru menakutkan. Tidak ada lagi kehangatan, yang tersisa hanya saling menjauh. Setelah wabah sudah berlalu,  mari kita melaju untuk menciptakan hubungan yang hangat dengan sesama, karena kita tidak tahu apa yang bakalan terjadi, karena hidup ini penuh misteri.  Siapa tahu ada masa dimana kita tidak bisa silaturahmi dan bercengkrama dengan saudara, teman terkasih, bahkan keluarga tercinta.

B. HUBUNGAN DENGAN SEMESTA

Menurut saya hubungan manusia dengan semesta adalah hubungan yang seksi. Tapi sayang banyak manusia yang mengabaikan hubungan dengan semesta. Alam sering menjadi pelampiasan nafsu dan keserakahan manusia. Alam menjadi korban dari eksploitasi untuk mendapatkan keuntungan financial. Manusia dengan begitu arogan  menganggap semesta membutuhkan nya, tergantung padanya. Tapi setelah corona melanda apa yang terjadi. Lihat saja, bumi berotasi dengan normal, langit begitu indah dan bermekaran, hutan-hutan tumbuh mengembang, binatang-binatang laut hidup bebas di alamnya. Bahkan beberapa fenomena alam selama corona seolah mempermalukan manusia. Puma mengaum di jalan-jalan Santiago, Chili. Kambing-kambing mengambil alih kota wales. Monyet-monyet di India tanpa merasa  terancam masuk ke rumah warga untuk mencari makanan. Dan satu fenomena paling menakjubkan saat Corona melanda adalah, warga India bisa melihat puncak Himalaya  dari jarak 200 km dan hal ini tidak pernah terjadi sejak 30 tahun terakhir. Lihat lah, semesta semakin prima, binatang-binatang mamalia hingga melata seolah berpesta merayakan kebebasan di tengah keheningan, tanpa gangguan dan ancaman. Satu kesimpulan yang pasti dari fenomena ini, semesta tidak membutuhkan manusia, justru sebaliknya kita yang membutuhkan semesta. Setelah Corona berlalu, jagalah harmonisasi dengan alam, berbaurlah bersamanya dengan keakraban. Bagaimanapun juga kita manusia membutuhkan semesta untuk melanjutkan peradaban. 

C. HUBUNGAN DENGAN PENCIPTA

Saat nestapa datang, bencana melanda, pahitnya kehidupan sudah tak tertahankan, acap kali kita manusia berbondong-bondong bersujud pada pencipta meminta bantuan. Sebelum Corona melanda, coba renungkan bagaimana hubunganmu dengan pencipta. Manusia kerap menyisihkan Tuhan dari kehidupanya.  Demi mengejar harta, kesenangan dan kenikmatan. Sekarang lihat lah, setelah wabah meluluh lantakkan dunia, manusia mendadak mencari Tuhan. Memohon ampun dengan gelisah. Mengadu, berharap kegetiran hidup cepat berlalu. Hubungan dengan pencipta salah satu pelajaran paling berharga yang bisa kita petik dari Corona. Mulai dari sekarang mari kita bina hubungan yang lebih personal dengan pencipta. Hubungan yang lebih tulus terjalin baik dalam suka maupun duka. Melupakan pencipta sama dengan menghilangkan berkat dari kehidupan. Kita tidak akan tahu apa yang terjadi hari esok yang penuh misteri. Siapa yang pernah menyangka Corona akan  menyerang peradaban tanpa ampun. Berpegang teguh kepada pencipta akan membuat kita tetap kuat dalam situasi apapun. 

2. Pelajaran Kedua tentang Kebebasan

Dulu sebelum corona melanda melangkah kemana saja begitu mudah. Nongkrong dengan teman tergokil bisa dilakukan kapan saja. Melanglang buana dari satu negara ke negara lain bisa dilakukan dalam sekejap, yang penting ada dana. London paris hingga portugis bisa ditelusuri dalam hitungan hari. Ajib-ajib tiap malam hingga rembulan tenggelam bisa dilakukan saban hari. Tidak ada ketakutan, tidak ada kekhawatiran. Dulu kebebasan begitu mudahnya didapatkan. Sekarang setelah Corona datang melangkah keluar gang sekali pun tidak lagi gampang. Hargailah sekecil apapun kebebasan dalam hidup ini. Walaupun hanya sekedar bertemu teman lama, ke kantor setiap hari, atau naik kendaraan umum di tengah kemacetan. Itu adalah kebebasan kecil yang jauh lebih baik daripada mendekam di rumah bak  burung dalam sangkar.   

3. Pelajaran Ketiga tentang rasa syukur

Sebelum Covid 19 menyerang coba renungkan berapa kali kamu mengeluh sepanjang hari. Malas ngantor, pengen  rebahan, macet terus, capek. Itu hanya sebagian kecil keluhan yang sering kita lontarkan setiap hari. Mengeluh seperti rutinitas yang tak berkesudahan. Manusia kerap tidak bersyukur dan ada aja alasan untuk menolak keadaan. Lihat lah sekarang saat Corona melanda. Kamu sudah gak ngantor lagi, kamu rebahan sesukai hati, kamu tidak pernah berhadapan dengan macet dan duduk manis di rumah gak akan membuatmu capek. Kita juga  sesekali  mengeluh soal gaji yang kecil dan sering menghabiskannya tanpa pikir. Bukan kah gaji yang kecil jauh lebih baik daripada tidak punya gaji sama sekali? Mungkin ada diantara kamu yang menjadi korban kehilangan pekerjaan karena corona. Pasti sangat menyakitkan berkali lipat di tengah situasi yang tidak normal ini. Rasa syukur salah satu pembelajaran yang sangat berharga dari kejadian ini. Mari kita lebih bersyukur dalam situasi apapun. Bersyukur  atas kesehatan, pekerjaan, kesibukan bahkan dalam situasi yang tidak menyenangkan sekali pun kita masih bisa bersyukur. Kita tidak tahu kapan hal buruk bakalan menyentuh kehidupan. Jika kita selalu bersyukur kebahagiaan yang kita rasakan akan konsisten. Apabila terus bahagia apapun situasinya kita tetap tenang menghadapinya. Sehelai nafas pun pantas untuk disyukuri. Dan walaupun keadaan ini berat bahkan mungkin paling sulit dalam sepanjang hidupmu, tetaplah bersyukur. Jika kamu bersyukur dalam situasi sulit,  harapan akan selalu ada.

 

4. Pelajaran Keempat tentang Mempersiapkan Kemungkinan terburuk Di Masa Yang Akan Datang

Covid 19 merupakan kejadian luar biasa dan salah satu yang paling buruk sepanjang peradaban. Lihat saja, perekonomian mulai runtuh, hampir semua sektor bisnis terkena dampaknya. Akibatnya PHK dimana-mana, atau digaji hanya setengah. Miris, mengerikan dan menakutkan. Sebelum Covid datang, siapa yang menyangka jika peradaban bakalan sehancur ini. Tentunya hal ini menjadi pembelajaran berharga buat kita manusia. Bukan berarti kita mengharapkan kejadian buruk akan datang, tapi kita harus mempersiapkan segala kemungkinan terburuk dalam hidup. Apa yang perlu kita persiapkan untuk menghadapi kemungkinan terburuk?  Mental, financial, dan iman. Jika kita mempersiapkan mental untuk kemungkinan terburuk, kita tidak akan kagok atau shock. Hal ini sangat penting untuk menghindari depresi ketika masa-masa buruk. Menabunglah dan persiapkan financial untuk persiapan di masa-masa buruk. Lihat lah sekarang, banyak manusia yang kehilangan pekerjaan, usaha tidak seantusias dulu. Keuangan mulai goyah. Kalau kamu punya tabungan keadaan buruk bisa dihadapi dengan lebih tenang, karena ada persediaan. Sementara dengan iman yang kuat akan membuat kita tetap tegar dalam situasi buruk. Ingat,  hanya dengan iman yang teguhlah membuat kita tetap damai dalam badai sekencang apa pun. 

5. Pelajaran Kelima tentang Kekayaan, kekuasaan dan Keserakahan Manusia Dan Antar Bangsa

Selama ini manusia sungguh agresif mengejar kekayaan, menjadikan pengaruhnya untuk melumpuhkan sesama. Tak jarang manusia sering serakah, demi harta dan kekuasaan. Bukan hanya itu, negara-negara kuat menindas negara yang lemah. Antar bangsa memamerkan kekuatan melalui teknologi canggih. Dari tenaga nuklir hingga senjata pemusnah massal. Sekarang lihatlah,  apa yang bisa diperbuat negara-negara adidaya. Apa bisa yang kamu  perbuat dengan kekayaanmu. Apakah kamu bisa bebas dengan kekuasaan mu? Negara maju dan berkembang sama saja, hanya bisa menyuruh rakyatnya berdiam di rumah. Teknologi canggih berkekuatan aduhai tak ada guna, corona tetap merajalela. Ribuan manusia bisa dilenyapkan seketika dengan senjata pemusnah massal. Tapi virus berukuran sekian nano saja tak bisa dilawan. Kekayaan, kekuasaan dan keserakahan tidak ada guna. Kita manusia sungguh lemah, tak berdaya dan tak punya kuasa. Kita ditundukan dan dilumpuhkan seonggok virus yang tak kasak mata. Tak usah serakah, tak usah sok berkuasa, hartamu tak ada guna, jika bencana melanda. 

 

Sobatku manusia, mari kita merenungkan pembelajaran dari kejadian yang tidak mengasyikan ini. Mulai sekarang kita harus menjalani kehidupan lebih bermakna, berguna.  Menjaga hubungan, menghargai kebebasan dan tak pernah lupa bersyukur. Percayalah, walaupun situasi mencekam selalu ada harapan. Semoga badai cepat terhempas, wabah lenyap dari peradaban. Jangan lupa mandi dan berdoa, walaupun cuma rebahan.