BERCUMBU DENGAN SEMESTA, MENJELAJAH PENGUNUNGAN BROMO

2 Comments

Share In Social Media

View Post2178

 

Gunung Bromo, 08 november 2015 pukul 05.00 pagi. Awan bergerombol mengelilingi gunung Bromo. Ketinggian 2.329 meter di atas permukaan laut bak negeri di atas awan.

 

Untuk bercumbu dengan Gunung Bromo membutuhkan waktu yang cukup panjang dan melelahkan. Kami memulai perjalanan dari stasiun kereta api pasar senen menuju kota malang Jawa timur. Perjalanan selama tujuh belas jam di kereta sungguh menggairahkan rasa bosan.

 

Melewati jalur-jalur kereta di sepanjang pulau Jawa tidak begitu menyenangkan. Tapi dengan keinginan yang kuat menyatu dengan rasa penasaran untuk berpapasan dengan gunung Bromo, kami pun tetap berusaha menikmati perjalanan  selama tujuh belas jam di kereta kelas ekonomi. Tidur di bawah tempat duduk kereta api dengan beralaskan koran terpaksa kami lakukan, untuk mengatasi gantuk yang terus menyerang di sepanjang perjalanan.

 

Di depan stasiun kereta Kota Malang

 

Pukul setengah sembilan pagi akhirnya kami pun menginjakkan kaki di kota Malang. Sebuah kota yang bersih, sejuk dan nyaris tak terlihat pengamen di jalanan. Malang merupakan kota kecil jauh dari kesan hiruk pikuk. Dan kami harus menempuh perjalanan tiga jam lagi dari kota Malang menuju home stay sebelum melakukan penanjakan ke gunung Bromo.

 

Di stasiun kereta Malang kami disambut dua orang pemandu dengan keramahan khas ala orang Jawa. Sesekali mereka menggunakan bahasa Jawa yang sama sekali tidak kami pahami. Tapi itu tidak masalah, yang jelas mereka menyambut kami dengan hangat dan kelihatan sangat antusias untuk memandu dan menemani perjalanan kami. 

 

 

Ada sedikit intermezo di perjalanan kami kali ini. Saat tiba di kota Malang pertama-tama kami langsung di sambut oleh seorang pemandu. Tanpa bertanya panjang, kami pun mengikuti pemandu tersebut dan masuk mobil. Saat mobil sudah mulai jalan, si pemandu di telepon trip yang sudah menunggunya di stasiun. Kami ternyata salah orang dan untung hal tersebut kami sadari baru beberapa menit, jika tidak urusanya bisa panjang.

 

 

 

Menempuh perjalanan selama tiga jam dari kota Malang ke home stay sangat menguji nyali. Jalan yang terjal dan berbelok-belok membuat mobil Zip yang kami tumpangi bergoyang  hingga membuat kami harus pengangan kuat sambil berteriak. Malam yang dingin dengan perjalanan yang ekstrim menuntut kami untuk selalu prima.

 

Jika Anda berniat untuk melakukan penanjakan ke gunung Bromo, dipastikan fisik Anda harus dalam keadaan baik. Karena disepanjang petualangan disuguhi dengan kondisi jalan yang keras, hampir disetiap bagian jalan terdapat tanjakan sementara disisi kiri dan kanan diapit oleh jurang. Untung pemandu kami sudah sangat profesional sehingga kondisi jalan yang brutal ia hajar dan membuat kami tidak terlalu panik.

 

 

Baca Juga : LAKUKAN 4 HAL INI AGAR TRAVELINGMU MENYENANGKAN

 

Kami pun tiba di home stay sekitar pukul tujuh malam, itu tandanya kami sudah mendekat dengan penanjakan gunung Bromo. Hawa dingin yang kian menggila mulai terasa di kulit. Kami beristirahat lima jam untuk memulai penanjakan jam tiga dini hari untuk menyaksikan sun rise yang akan menampakan wajahnya dari balik pengungunungan Bromo. Kami sudah menyelimuti tubuh  dengan jacket tebal, sarung tangan, topi dan syal. Sebelum berangkat kami di breefing pemandu terlebih dahulu. Menjelaskan dengan singkat mengenai penanjakan kami menuju gunung Bromo.

 

Breefing jam tiga subuh dari home stay sebelum penanjakan

 

Perjalanan dari home stay menuju penanjakan gunung Bromo membutuhkan waktu selama satu jam dengan mengendarai motor Zip. Perjalanan di jam tiga subuh menjadi sensasi tersendiri bagi kami untuk menyentuh keindahan dan keeksotisan alam Bromo. Pagi masih cukup jauh dan jam masih berputar di angka tiga subuh, tapi sudah banyak para petani di jalanan memikul hasil panenya berupa sayur-sayuran berjalan kaki berpuluh-puluh kilo meter. Merka berjalan terburu-buru bersama dengan dinginya subuh dan kegelapan. Sesuatu hal yang luar biasa menyaksikan orang-orang antuasias menuju pasar untuk mendangangkan hasil panenya pada hal masih subuh, dengan kondisi jalan yang keras.

 

Pengunungan Bromo sebelum Sang Surya menampakan Parasnya.

 

Setelah menenempuh perjalanan kurang lebih satu jam, kami pun turun dari zip menuju penanjakan gunung Bromo. Nafas kami pun ngos-ngosan menuju puncak gunung Bromo karena jalanan yang menanjak, untung tidak begitu jauh sehingga rasa lelah hanya mampir beberapa menit. Akhirnya yang kami nanti pun tiba. Dengan takjub kami menyaksikan begitu apik dan megahnya Gunung Bromo. Berdiri perkasa diatas permukaan laut diselimuti awan yang tipis. Bagaimana bisa Tuhan menciptakan suatu keindahan yang menakjubkan di negeri ini. Keindahan yang tak akan ditemukan di belahan dunia mana pun.

 

Terbayar sudah rasa lelah dan perjalanan panjang kami setelah menayaksikan keindahan tiada tara yang terpajang dengan Anggun di atas permukaan laut. Bromo menyuguhkan suatu karya seni yang tak ternilai dari illahi. Bromo adalah salah satu bukti bahwa negeri ini dikelilingi maha karya yang mempesona dari Tuhan.

 

 

 

Saya merasa berada di pengunungan Eropa Barat pada hal saya sedang berada di negeri  sendiri. Negeri dimana tidak banyak dunia yang tau bahwa disini bertaburan maha karya  illahi yang eksotis, berbaring indah bak taman sorgawi.

 

 

 

Kami seperti sekumpulan pendaki ulung yang berada di puncak Everest, pada hal kami sedang bercumbu dengan pengunungan Bromo yang berdiri di negeri katulistiwa. Dua puluh satu jam perjalanan untuk menginjakan kaki di tempat ini

 

 

Lihat bagaimana kami terbang bebas seperti segerombolan burung. Apa yang kami lakukan bukan sekedar mengisi liburan pendek dan beratarkasi di kamera. Kami seperti setengah lusin burung yang menikmati keindahan  yang tidak bisa dibayar dengan dollar atau pun rupiah. Gambar ini mengigatkan dan mengajarkan kami tentang satu hal. Bahwa diluar sana banyak kecantikan alam yang terpajang, dimana kita bisa menikmatinya kapan pun. Ah, hidup ini terlalu singkat jika hanya bersembunyi di balik gedung-gedung pencakar langit dan kemacetan, pada hal di dunia sana kita bisa terbang bebas seperti seekor burung.

 

Baca Juga:  SAAT KOTA SUDAH TIDAK MENARIK LAGI, DAN NGEBOLANG PUN JADI TREND

 

 

 

Subuh baru berlaju dan kegelapan pun tenggelam. Kami berdiri di ketinggian 2329 meter dia atas permukaan laut. Pengunungan Bromo seolah menyambut kami dengan hangat. Sebuah pemandangan yang elok, seperti menyaksikan wajah putri raja rupawan di abad pertengahan. Pohon-pohon yang berdiri tegap diantara lembah-lembah yang terjal. Semak-semak yang tumbuh dengn anggun dan sopan memperkaya keindahan bentang Alam Bromo. Kami benar-benar berada ditempat yang tepat untuk bercumbu dengan alam.

 

 

 

Saatnya menuju pasir berbisik dengan menggunakan mobil zip setelah merasakan sensasi keidahan tubuh gunung Bromo. Jalanan yang turun diselingi dengan gerombolan awan dan pepohonan membuat kami tidak berhenti berteriak bahagia, pemandangan yang jarang dinikmati mata dan sensasi yang tidak pernah menyentuh jiwa.

 

 

Kami pun menginjakan kaki di pasir berbisik yang terletak di bawah kaki gunung Bromo setelah melewati jalanan yang turun dan kabut asap yang menyelimuti udara. Sebelum menyentuh tempat ini ada sebuah fenomena yang luar biasa. Fenomena yang akan terus melekat dalam ingatan kami, hingga menjadi kenangan yang indah dan sedikit brutal.

 

Sebelum mobil zip yang kami tumpangi sampai di pusat pasir berbisik, kami terlebih dahulu melalui jalanan terjal diselimuti kabut asap, nyaris tidak terlihat apa pun. Kami seperti berada di negeri awan jauh dari kehidupan di jagat raya. Mobil zip itu terus bergoyang, dan kami selalu berteriak kegeringan. Mirip seperti adegan film action brutal di gurun pasir. Sampai pada akhirnya kami bisa menyaksikan hemparan pasir yang berbaring di kaki gunung bromo. Saya seperti baru saja melakukan satu adegan di film Mad max yang sangat brutal itu.

 

 

Kami terbang bebas kembali, kali ini di bawah kaki gunung Bromo. Sungguh penasaran saya kenapa wilayah ini disebut pasir berbisik. Hemparan pasir yang berbaring anggun di bawah kaki gunung menyita rasa penasaran saya kenapa disebut pasir berbisik.

 

Konon katanya jika kena angin, permukaan pasir ini menimbulkan suara berdering dan merdu, itu lah alasan kenapa disebut, “ Pasir berbisik “. Selama hampir satu jam kami berada di pasir berbisik, tak sekali pun pasirnya berbisik. Mungkin karena angin yang tenang sehingga pasirnya pun diam. Di pasir berbisik kami bisa melihat dengan jelas kemolekan tubuh gunung Bromo. Pasir berbisik sebuah bentang alam yang unik. Struktur tanah yang tidak lazim di pengunungan membuat Gunung Bromo memiliki karakter dibandingkan gunung yang lain.

 

 

 

Kali ini kami akan berusaha menggapai puncak gunung Bromo yang sesungguhnya. Untuk menyaksikan dengan nyata kawah dan laharnya yang mendidih. Dan untuk mencapai puncak itu tentunya membutuhkan nafas yang panjang dan tenaga yang kuat.

 

Sebelum saya menceritakan perjalanan kami untuk menggapai puncak gunung Bromo, coba Anda saksikan keindahan yang tersaji di gambar terlebih dahulu. Seperti pengunungan di Nevada Amerika serikat atau bahkan mirip seperti gurun Sahara di Afrika bukan? Lekukan jalan yang terjal, struktur tanah yang lembut dan beberapa bagian ditumbuhi pohon-pohon kecil yang teduh. Dan di balik sana ada puncak yang harus kami jelajah.

 

 

Setealah bergulat dengan rasa lelah kami pun menginjakan kaki di puncak kawah Bromo. Berselimutkan nafas ngos-ngosan. Lihat lah ke bawah, seperti padang Arafah di Arab saudi bukan? Ternyata negeri ini memiliki segalanya. Semua yang ada di negeri orang ada di negeri ini. Menatap pemandangan dari atas saat mata menyaksikan hemparan pengunungan dengan pasirnya yang berbaring, membuat saya takjub dengan semua keindahan yang ditempa sang maha kuasa. Saya tidak memiliki alasan apa pun untuk tidak mencintai negeri ini.

 

Puncak kawah Bromo

 

Akhirnya puncak pendakian kami pun berakhir manis dan menyejukkan. Kami berhasil menginjakan kaki di puncak kawah Bromo dengan menyaksikan sebuah fenomena alam yang sangat menarik. Suara lahar yang bergemuruh terdengar jelas di telinga. Aroma belerang mengambang di udara dan awan yang berterbangan tanpa arah.

 

Sejenak saya duduk tenang di puncak sana, menyadari sebuah keindahan yang tiada tara. Eksotis, menggugah mata untuk selalu menatapnya. Perjalanan panjang dan melelahkan tidak seberapa saat menyaksikan berbagai aneka keindahan yang disajikan gunung Bromo. Bersyukur pernah bercumbu dengan si gunung eksotis itu, membuat kami ketagihan menyaksikan berbagai keindahan yang bersembunyi dibelahan sana.

 

 

Saatnya pulang meninggalkan kota malang. Petualangan telah usai, kami membawa setumpuk keseruan dan pengalaman berkesan. Banyak cerita, lusinan tawa, berjuta keindahan telah tersaji di sepanjang perjalanan. Entah kapan  kembali kesini yang jelas kami akan selalu merindukan tempat ini.

 

Hidup adalah petualangan bukan kompetisi, hidupmu terlalu manis dan singkat jika hanya bersembunyi di balik tempat dudukmu dan kamarmu. Banyak hal-hal menakjubkan yang bisa kita saksikan di luar sana. Tuhan menempa keindahan di luar sana bukan hanya sebagai pajangan tapi untuk dinikmati, agar kita sadar akan keindahan yang di tempa Tuhan dan tau menghargai serta memperlakukan alam.

 

Catatan kecil untuk teman berpetualang.

Kalista, 20 Tahun Toraja

Di sepanjang perjalanan ia menjaga keanggunanya, dalam keadaan kereta yang goyang sekali pun di masih mempertahankan keelegananya sekuat tenaga. Ia masih duduk bersila sambil makan di kereta,  padahal keadaan kereta goyang. Miss Toraja yang gagal mengikuti ratu kecantikan.

 

 Etah Anak Santrie, 18 Tahun Sumatra Barat

Lain kali saya harus lebih cerdas untuk membawanya berpetualang, karena saya baru sadar ternyata membawanya cukup ribet. Saya seperti membawa sepasang kasur dan kulkas atau kayu gelondongan. Big Hug my Gelondongan.

 

Pinang Ranti Kerlia, 20 Tahun Jakarta sekitarnya

Ternyata di dalam tubuhnya yang sintal terdapat kekuatan tersembunyi. Ia bisa melewati tantangan alam dengan baik dan nyaris sempurna. Dia bisa berjalan cepat dan mendaki puncak. Seharusnya dia ikut casting di film Point break.

 

Suyanto,  yang tidak pernah mengakui usianya.

Dia mengajarkan saya bagaimana tidur di bawah tempat duduk kereta hanya dengan beralaskan koran. Oke, saya curiga sepertinya dia mantan petugas pembersih kereta api yang sering tidur di bawah tempat duduk ke reta api. Peace My Bro

 

Rorosudarwono, 22 tahun Bekasi sekitarnya

Dia aneh, kenapa harus konfirmasi kepada Etah saat ia sudah menghabiskan nasinya. “ Tah udahan “

Dia pikir Etah ibu tirinya apa. Tapi dia hebat bisa melalui perjalanan yang panjang dan ekstrim di tengah sosoknya yang gemulai dan santun beraura syariah.

 

Yopi and The nuno

Dia bisa mengikuti ritme kegilaan kami. Dibalik sosok introvetnya dia bisa tertawa tanpa harus menutup mulut. Dia teman berpetualang yang seru dan menyenangkan.

 

Catatan Singkat untuk yang suka berpetualang dan bercumbu dengan alam

  “ Tulislah petualanganmu bersama alam menjadi serangkaian kisah. Sebuah petualangan akan lebih bermakna bahkan bisa menjadi sejarah jika kamu menggoreskanya dengan kata-kata. Kata-kata itu yang akan menceritakan ke anak cucumu, bahwa kamu pernah melakukan perjalanan menakjubkan bersama alam dan teman-teman terbaikmu. “ By Thomas Jefferson Malau

Follow Me In Social Media
Categories: TRAVELLING Tags: Tags: , ,

2 Responses to “BERCUMBU DENGAN SEMESTA, MENJELAJAH PENGUNUNGAN BROMO”

Leave a Reply