” DEVDAS” KISAH CINTA PALING TRAGIS DI ZAMANYA

2 Comments

Share In Social Media

View Post5359


Sebuah Eksplorasi Menakjubkan Tentang Gairah dan Cinta, BBC

Sebelum membaca novel Devdas, saya sudah pernah memnonton filmnya. Film yang begitu apik di kemas menarik sutradara Sanjay laila bansali dengan artistik klasik tingkat tinggi.

Film tersebut semakin istimewa karena dibintangi tiga aktor bollywood yang memiliki nama besar di industri sinema India, yakni Shahrukh khan, Aiswarya rai dan Madhuri Dixit.

 

Kehebatan Sanjay dalam meramu filmnya berbuah hasil yang menakjubkan, film devdas berhasil lolos dalam nominasi piala Oscar 2003 dalam kategori film berbahasa asing terbaik. Walaupun belum berhasil memboyong piala Oscar, tapi paling tidak film Devdas telah mampu menorehkan kwalitas film bollywood secara global.

 

Saya tidak akan membahas spesifikasi film itu, tapi saya akan menjabarkan secara singkat novelnya dan bagaimana kita merefleksikan nilai-nilai dedaktis di dalam novel tersebut terhadap kehidupan kongkrit manusia.

Novel Devdas sudah delapan kali diangkat ke layar lebar. Saya akan memaparkan sedikit prespektif saya sebagai orang awam terhadap novel karya Sarat chandra chatro padhyay ini, tentu saja kapasitas saya bukan sebagai seorang kritikus.

 

Devdas merupakan salah satu cerita cinta paling tragis pada zaman kita, di kemas secara mengagungkan oleh Sarat chandra. Sejak pertama kali terbit di India, seperti Romeo-Juliet dan Lalyla-Majnun kisah ini kerap di perbicangkan dari masa ke masa, menjadi kisah cinta yang melegenda di India dan bahkan dunia.

 

Berkisah tentang Devdas dan Privati alias Paro, dua anak manusia yang saling menyayangi sejak lama. Devdas adalah pria kaya dan ayahnya seorang zamindar, jika diartikulasikan secara harafiah zamindar berarti tuan tanah. Privati justru sebaliknya dia wanita miskin yang tinggal di rumah kecil dan sangat sederhana, berbeda dengan rumah Devda yang megah bak istana.

 

Sejak kecil Devda dengan Paro sudah membina hubungan yang dekat, mereka selalu bermain bersama. Kedekatan Devda dan Paro menciptakan rasa kasih sayang dan cinta yang kuat diantara mereka. Devda seorang pria keras kepala yang susah diatur, sedangkan Privati adalah seorang gadis yang sangat menarik, dewasa dan cerdas.

 

Devdas dan Privati berpisah ketika Devdas di sekolahkan ke Calcuta. Ketika beranjak dewasa, Privati menyadari rasa cintanya kian bertumbuh terhadap Devdanya sejalan dengan pertumbuhan usianya. Ia pun meminta devda melamarnya, orang tua Devda dengan tegas menolak Privati sebagai menantunya. Mereka menganggap bahwa Privati hanya wanita miskin yang berasal dari keluarga yang derajat sosialnya rendah.

 

 

Ditengah penolakan orang tuanya terhadap Paro, Devda justru berkutak dengan aksi bodoh yang jelas telah mencederai cintanya terhadap Paro. Ia bukannya berjuang untuk menyatukan cinta mereka, bukannya berjuang untuk menjembatani jurang perbedaan strata sosial yang mencolok diantara mereka. Devda justru bernanung dibawah keputusan orang tuanya dan melanjutkan sekolahnya ke Calcuta.

Ia meninggalkan paronya berbaur dengan penderitaan akibat siksa cinta yang ditorehkannya. Ketika Devda pulang ke Calcuta, ia pun melayangkan sepucuk surat kepada Paro, selembar kertas yang dihuni kata-kata yang mematahkan cinta Paro pada Devda.

 

Aku tidak pernah merasakan cinta yang begitu besar padamu, bahkan hari ini hatiku tak bisa merasakan luapan kesedihan terhadapmu, aku hanya merasa tidak enak karena engkau menderita karena diriku, cobalah untuk melupakanku.” Begitulah penggalan surat Devda pada Paro. Kata-kata yang berhamburan dari balik kepura-puraan dan sandiwaranya. Rasa cinta Devda pada Paro mendekam di balik jeruji kepura-puraan.

 

Paro sadar bahwa cintanya yang kuat pada Devda tidak bisa lagi dimuarakan dalam ikatan cinta yang lebih dalam. Ia pun menikah dengan seorang duda yang kaya raya. Duda yang usianya dua kali lipat di atas paro. Mengetahui pernikahan Paro, Devda seolah menyadari kesalahan yang ia sudah goreskan, kesalahan yang membuat paro membekukan akses Devda untuk menjelajahi cinta ke dalam perasaanya.

 

 

Paro kelihatan bahagia dengan suami dan anak-anaknya yang usianya setara dengannya. Tapi di balik kebahagiaan Paro bersembunyi bayang-bayang Devda dalam pikirannya. Cintanya pada pria itu belum beranjak dari perasaanya.

 

Sementara Devda terbenam dalam keterpurukan, ia melampiaskan kekecewaanya dan cintanya yang tidak bisa menyatu dengan cinta Paro dalam minuman keras. Ia sudah kehilangan paronya, cinta pertamanya. Devda tidak lebih dari pria sampah yang tolol.

 

Devda kian akrab dengan minuman keras. Pria kaya pujaan Paro kini tidak lebih dari sekedar pria berantakan yang kurus kering. Tubuhnya diselimuti kulit kusam , perangainya benar-benar tidak menunjukkan seorang Devdas yang sesungguhnya.

 

Devda semakin lemah dan membusuk, sementara Paro sibuk menyayangi orang lain, setiap hari berbelas kasih kepada setiap orang. Dan Devdanya orang yang sangat ia cintai, nyaris kahausan, nyaris tenggelam dalam lautan keterpurukan.

 

Devda menjadi seorang pemabuk berat dan sesekali ditemani Chandra Murti, seorang pelacur jelita yang mencintainya pada pandangan pertama. Wanita yang menjadi tempat Devda dalam memuntahkan kegundahan perasaanya.

Chandra murthi rela meninggalkan dunia gelap yang selama ini ia huni demi Devdas. Devdas tidak menyambut baik cinta yang sudah dilemparkan Chandra Murthi kepadanya. Sosok Paro masih membayanginya.

Devda memutuskan untuk tidak pernah mencintai lagi, salah satu alasannya adalah sangat menyakitkan bila mencintai dan harus kehilangan. Ia menganggap menjadi ketololan terbesar bila ia jatuh cinta lagi.

 

Di akhir hayatnya yang kian mendekat Devda berusaha memenuhi janjinya pada Paro. Ia ingin menemui paro sebelum maut menjemputnya. Waktunya tidak panjang lagi dan azal sudah kian mendekat, sementara ia ingin menemui Paro. Di tengah guyuran hujan Devda menyewa sebuah delman menuju desa Hati pota tempat Paro dan suaminya.

 

Devda berjuang untuk menemui paro, air hujan mengenang dimana-mana, beberapa bagian jalan dalam kondisi rusak.

Pedati yang ditarik sapi bergerak pelan dan berisik, jalan yang di tempuh masih bermil-mil, sementara hari terakhir Devda sudah semakin menghampiri, ia benar-benar hampir sekarat. Devda berbaring lemah di dalam pedati, ia sudah mulai susah bernafas. Oh Devda ia bertengkar dengan maut, ia semakin sekarat.

 

Di saat pedati yang ditumpangi Devda tiba di depan rumah Paro, ia tidak bisa berbuat apa- apa. Devda tidak bisa lagi bergerak. Dua butir air mata mengalir pelan di pipinya.

Di saat malam berujung pada pagi, disaat cahaya mentari menerpa bumi, Devda kian menemui azalnya, ia berbaring sekarat di bawah pohon. Seorang laki-laki keturunan terhormat.

 

 

Devda mengenakan syal, sepatu mahal, dan jemarinya di penuhi cincin. Devda menghantarkan mayatnya di depan rumah Privati, wanita yang sangat ia cintai.

Pada hari terakhirnya tak ada satu kecupan dari paro di keningnya. Devda seorang bajingan malang yang susah diatur mati sia-sia, tak ada hal apa pun yang bisa ia perbuat pada Paronya di ujung nafas terakhirnya.

Ia tidak sempat menatap wajah jelita Paro, tak sempat sepatah kata yang terlontar dari mulutnya untuk Paro. Cinta Devda pada Paro yang dalam, berakhir pada sebuah kematian yang sia sia. Oh…Devda pria yang malang.

 

Kisah cinta yang benar-benar di kemas sedemikian dramatis dan mengharu biru oleh Sarat Chandra. Diksi yang digunakan begitu indah dan sederhana. Seperti yang dikemukakan BBC,” Devdas sebuah eksplorasi menkajubkan tentang gairah dan cinta”.

 

Novel Devdas dipaparkan secara lugas sehingga mudah dipahami, tidak banyak pemaparan implisit yang sering membuat pembaca bingung. Jadi hampir bisa dipastikan tak ada eksposisi dan deskripsi yang susah dipahami, siapa pun yang membaca novel Devdas pasti bisa mengartikulasikanya dengan makna yang mendalam.

 

Devdas juga sangat menarik dari segi ide cerita. Kisah cinta yang tidak lazim. Devdas bukan kisah cinta dua anak manusia yang diawali dari perjuangan cinta yang tragis yang diakhiri dengan kebahagiaan tokohnya. Kisah cinta Devdas dan Paro bukan menyatu dalam kebahagiaan abadi, tapi justru itulah yang membuat novel ini menarik.

Sarat chandra memaparkan novel ini dengan sangat bagus. Cerita didalamnya mengandung nilai moral yang sangat kuat. Mengigatkan kita sebagai manusia bahwa cinta akan memberikan dua kemungkinan bagi peminatnya. Terjerumus ke dalam lautan kebahagiaan permanen, atau berbaur pada keterpurukan yang akan bermuara pada penderitaan, seperti yang dialami Devdas

 

 

Kita sebagai manusia tentunya tidak luput dari mencintai dan dicintai. Jangan pernah melakukan kesalahan yang akan membuatmu menjauh dari calon cinta sejatimu, seperti yang dilakukan Devdas.

Mungkin saja orang yang Kamu cintai akan akan meninggalkanmu dan tidak akan pernah kembali karena kebodohanmu. Jika hal buruk terjadi dalam kisah cintamu jangan sesekali melampiaskan kekecewaanmu dengan minuman keras. Hanya bajingan malang yang susah diaturlah yang akan melakukan itu, yang lagi-lagi seperti Devdas.

 

Kematian memang tak terelakkan, tapi paling tidak di saat hari terakhir setidaknya ada sentuhan penuh kasih sayang yang mengusap keningmu. Ada satu wajah yang penuh perhatian, dan penuh kerinduan yang mengucapkan selamat tinggal untuk selama-lamanya.

Betapa berharganya Kamu jika meninggal disamping orang-orang yang kamu cintai. Ada setetes air mata dari orang yang Kamu cintai yang dibawa dalam kuburmu. Devdas kisah cinta yang akan tetap hidup hingga akhir zaman, walau devdas termasuk novel bersetting klasik, tapi tidak ada basinya untuk dibahas hingga zaman super modren.

Follow Me In Social Media
Categories: BOOKS Tags: Tags:

2 Responses to “” DEVDAS” KISAH CINTA PALING TRAGIS DI ZAMANYA”

  1. Hi my friend! I wish to say that this article is awesome, nice written and include approximately all significant infos. I’d like to see more posts like this.

  2. I just want to tell you that I am all new to weblog and honestly liked your web site. Very likely I’m likely to bookmark your site . You amazingly come with perfect well written articles. Thanks a lot for revealing your website page.

Leave a Reply